Tampilkan postingan dengan label Administrasi Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Administrasi Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Januari 2011

Administrasi Bisnis

BAB I
Prinsip Organisasi Bisnis


1.1 Nilai

Bisnis tercipta karena adanya maksud dan tujuan tertentu dari para pelakunya. Salahsatu diantaranya adalah melayani konsumen atau customer. Konsumen adalah pihak terkait yang behubungan langsung dengan akitivitas bisnis itu sendiri dan menjadi penghasilan dalam sumber pendapatan. Semua aktivitas bisnis meliputi produksi, distribusi, pabrikasi, pemasaran dan aspek lain yang selalu membutuhkan konsumen atau customer. “Value” selalu diusahakan untuk terdapat pada produk atau layanan kita kepada konsumen.

1.2 Customers

Konsumen adalah individu atau sekelompok orang atau organisasi yang menjadi objek dari aktivitas organisasi yang dikerjakan. Mereka adalah pihak-pihak yang secara langsung atau tidak langsung memiliki keterkaitan kerjasama dengan kita melalui pemanfaatan dan penggunaan produk, penikmat layanan yang kita sediakan. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui sejauh mana konsumen dapat memberikan penilaian dan menghargai produk yang kita tawarkan.

1.3 Differentiation

Semua bisnis beroperasi dalam sebuah wahana yang sangat kompetitif. Konsumen memiliki alokasi dana yang terbatas sehingga mereka berhati-hati dalam memilih dan menggunakan produk atau layanan yang sesuai dengan yang mereka butuhkan. Secara tidak langsung semua produk atau layanan akan dibedakan sesuai dengan corak, gaya, kualitas, kebutuhan, kemiripan atau kekhasan tertentu. Contoh bisnis dengan tingkat kompetisi yang tinggi adalah mobil, restoran, dan garmen. Dengan memahami identitas dari kosumen dan mengapa mereka memilih produk yang kita tawarkan maka selanjutnya kita dapat menyusun konsep keuntungan yang mampu kita peroleh

1.4 Strategi

Memahami konsumen dan keunggulan produk yang ditawarkan sangat penting untuk menjaga kelangsungan aktivitas bisnis. Sangatlah penting untuk memperhatikan lingkungan dan perubahan-perubahan budaya yang ada. Kondisi lingkungan dan budaya yang berkembang di tempat kita menjalankan bisnis harus dapat dipahami secara optimal untuk membantu membaca kesempatan dan menentukan rencana untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan dalam perusahaan. Sehingga diperlukan peraturan-peraturan untuk ditaati dan mengamati perkembangan kemajuan program-program yang dicanangkan. Rencana teknis diperlukan setiap hari sesuai dengan jenis konsumen yang dihadapi. Penting sekali untuk menjaga keselarasan antara peraturan yang diterapkan, perkembangan dari program dengan tujuan strategis.

1.5 Organisasi

Organisasi bisnis berdasarkan strukturnya meliputi sumberdaya, tenagakerja dan materi. Pengorganisasian secara terstruktur berhubungan langsung dengan kemajuan proses, kosistensi perusahaan, kecepatan produksi dan efisiensi. Kebijakan-kebijakan juga diperlukan untuk menyesuaikan dengan lingkungan agar selaras dengan permintaan dan kebutuhan konsumen.

1.6 Profit

Keuntungan atau profit adalah tujuan dari dilakukanya sebuah bisnis. Peraturan dalam sebuah organisasi sangat diperlukan demi memperoleh keuntungan yang signifikan. Kecepatan produksi dan efisiensi anggaran berhubungan langsung dengan perolehan keuntungan . diskon, kebijakan, cuci gudang, jam buka dan waktu pelayanan dapat menentukan keuntungan.

1.7 Kontrol

Pengendalian dengan berdasar pada acuan ukuran sangat penting untuk membuat kebijakan yang berguna. Pengendalian pada proses, sumberdaya, penempatan tenaga kerja yang proporsional dengan pekerjaanya, pengambilan kebijakan akan memberikan kontribusi yang nyata pada proses pengambilan keputusan organisasi. Pengendalian memerlukan tolok ukur yang nyata seperti jumlah keuangan, angka-angka, persentase, atau tanggal, tidak boleh berdasarkan pada intuisi, persepsi atau konsep saja.

BAB II
Business administration


2.1 Definisi Administrasi

Administrasi sebagai seni dan ilmu. Administrasi sebagai seni adalah suatu proses yang diketahui hanya permulaan dari suatu kegiatan sedang kapan berakhirnya kegiatan itu sendiri tidak diketahui. Administrasi sebagai proses kerja sama bukan merupakan hal yang baru karena ia telah timbul bersama-sama dengan timbulnya peradaban manusia. Tegasnya, administrasi sebagai "seni" merupakan suatu social phenomenon.

Sampai dengan tahun 1886, manusia hanya mengenal administrasi sebagai seni. Kemudian, pada tahun 1886 itu timbullah suatu ilmu baru, yang sekarang ini dikenal dengan Ilmu Administrasi yang objek studinya tidak termasuk objek studi ilmu-ilmu yang lain. Ilmu Administrasi telah pula memiliki metode analisisnya sendiri, sistematikanya sendiri, prinsip-prinsip, dalil-dalil serta rumus-rumusnya sendiri.
Bidang-bidang atau percabangan dari pembagian ilmu administrasi dapat dibedakan secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal (menurut lingkungan suasananya), berarti penekannya pada sifat atau karakter dari kerja sama yang ada, dapat dibagi-bagi ke dalam cabang-cabang :

1) administrasi kenegaraan (public administration);

Berbagai kegiatan yang berlangsung dalam lingkungan suasana kenegaraan mempunyai ciri-ciri berikut.
a. Kegiatan berupa pemberian pelayanan kepada kepentingan umum dan warga negara.
b. Kegiatan mempunyai sifat sangat penting.
c. Kegiatan dilaksanakan oleh badan negara dan aparatur pemerintah.
d. Kegiatan terikat oleh peraturan negara dan daerah.
e. Kegiatan ditetapkan oleh wakil rakyat.

2) administrasi perusahaan (business administration),

Berbagai administrasi yang berada dalam lingkungan suasana perusahaan, misalnya administrasi penjualan dan pemasaran; administrasi produksi ; administrasi periklanan; administrasi perbankan; administrasi perhotelan; administrasi pengangkutan.

3) administrasi kemasyarakatan (social administration).

Berbagai administrasi yang berada dalam lingkungan suasana kemasyarakatan, misalnya administrasi perhimpunan; administrasi perkumpulan; administrasi yayasan; administrasi koperasi; administrasi serikat buruh; administrasi lembaga fakir miskin; administrasi pekerjaan sosial; administrasi gereja.

Secara horizontal berarti melihat administrasi dilihat dari aspek teknis/unsur-unsurnya. Kajian ilmu administrasi ini adalah aspek teknis/unsur-unsur administrasi yang mencakup 1) organisasi, 2) manajemen, 3) kepegawaian, 4) keuangan, 5) perlengkapan, 6) pekerjaan kantor, 7) tata hubungan/komunikasi, dan 8) perwakilan/public relation.

2.2 Definisi Administrasi Bisnis

Administrasi bisnis adalah studi tentang bisnis yang meliputi kemampuan analisa, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, kemampuan komunikasi antar individu serta pengembangan strategi bisnis, kepemimpinan dan manajemen sumberdaya serta informasi. Tujuan utamanya adalah menghasilkan keuntungan bagi organisasi.

2.3 Tipe

Ada 4 bentuk administrasi bisnis, antara lain:

2.3.1 Sole proprietorship

Sole proprietorship adalah bisnis yang dimiliki oleh hanya satu orang saja. Pemilik dapat mengoperasikan penuh bisnisnya dan mengendalikan pegawainya serta memiliki hak tanpa batas terhadap keuangan perusahaan. Contohnya adalah kontraktor independen, konsultan atau freelancers.

2.3.2 Partnership

Partnership adalah salah satu bentuk bisnis yang dimiliki oleh dua orang atau lebih. Masing-masing pemilik memiliki hak akses penuh terhadap asset dan keuangan perusahaan. Ada 3 bentuk bisnis partnership, yaitu general partnerships, limited partnerships, dan limited liability partnerships.

2.3.3 Corporation

Corporation merupakan salah satu bentuk bisnis yang dimiliki oleh dua orang atau lebih dimana masing-masing pemilik memiliki hak yang terbatas dan dibatasi oleh aturan berkekuatan hukum yang sudah disepakati. Diperlukan perlindungan hukum terhadap keuangan para pemilik saham. Perusahaan memiliki hak penuh terhadap jumlah keuntungan yang dapat dibagikan kepada pemegang saham atau menyimpannya untuk kemajuan perusahaan.

2.3.4 Cooperative (Koperasi)

Cooperative sering disingkat dengan “co-op”, sebuah cooperative merupakan sebuah entitas liabititas yang terbatas dan dapat dijalankan bagi usaha berorientasi profit maupun non profit. Cooperative yang berorientasi profit berbeda dengan perusahaan profit yang anggotanya, tidak memiliki kewenangan seperti shareholder. Cooperative dibedakan menjadi consumer cooperatives atau worker cooperatives. Cooperatives merupakan dasar dari ideologi demokrasi ekonomi.

BAB III
Perfected Business Machine


Menurut Carl Copeland Parsons, dalam sebuah perfected business machine, individu dalam organisasi tersebut tergabung dalam sebuah kesatuan yang harmonis dimana mereka bekerja bersama untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi yang memiliki berbagai bagian yang berbeda harus dibuat dalam sebuah hubungan yang sistematis. Harus diciptakan sebuah keadaan yang tidak ada konflik kekuasaan, duplikasi usaha, dan pembuangan energi yang sia-sia. Setiap individu harus melaksanakan tugas dan pekerjaannya secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama.

Pokok bahasan ini bertujuan untuk mendefinisikan otoritas dari berbagai macam kepala departemen yang berbeda dan untuk menunjukkan bagaimana setiap bagian organisasi bekerja sama dengan bagian lainnya. Divisi hingga departemen yang ada dalam organisasi bisnis dikontrol oleh dua elemen yakni:
1. Karakter tenaga kerja yang dibutuhkan untuk dipekerjakan
2. Karakter dari material yang diproses

3.1 Organization in production department

Dalam menganalisis divisi produksi dalam sebuah organisasi bisnis, akan sangat sulit untuk membuat sebuah standard, divisi ini akan sangat bervariasi daripada divisi lainnya, dan harus disusun dengan mencocokan kebutuhan organisasi. Kepala utama dari divisi produksi adalah kepala pembelian (head buyer) atau merchandise manager. Tugasnya adalah menentukan barang yang akan dijual oleh divisi penjualan. Di bawah divisi pembelian adalah retail salespeople. Di bawah kewenangan retail salespeople ada seorang recieving clerk (penulis penerimaan), stock clerk (pencatat persediaan) dan delivery clerk (pencatat pengantaran). Teori divisi tersebut sering dimodifikasi dalam prakteknya dengan menambahkan sistem penerimaan dan pengantaran yang umum untuk seluruh departemen.

Dalam perusahaan bisnis wholesale, buyers tidak memiliki kewenangan dalam penjualan, kepala chief stock clerk atau receiving clerk secara langsung bertanggungjawab pada general manager.

3.2 Division of work under in superintendent (pengawas)

Dalam perusahaan pabrikan atau tambang, pengawas (superintendent) mengambil peran penuh terhadap setiap detail produksi. Di bawah pengawas langsung terdapat berbagai departemen, chief stores clerk dan purchasing agent. Dalam beberapa kasus, dua posisi tersebut langsung berada di bawah general manager, pengawas (superintendent) hanya memiliki kewenangan requisisi dari material yang dibutuhkan. Chief stores clerk bertanggungjawab pada penanganan bahan mentah dan produk jadi.

3.3 The duties of sales organization

Tugas dari sales manager adalah terkait dengan menjual produk yang dihasilkan oleh divisi produksi. Bidang penjualan dalam sebuah organisasi bisnis merupakan faktor yang paling penting. Divisi produksi tidak akan berguna jika produknya tidak dapat terjual sebagai laba, sukes dari perusahaan sangat tergantung dari suksesnya usaha divisi penjulan. Untuk menjual, sebuah pasar harus diciptakan, dan untuk itulah departemen periklanan (advertising department) menjadi kebutuhan perusahaan berikutnya.

3.4 The accounting department a clearing house

Departemen akunting (accounting department) merupakan badan pembersihan bagi semua urusan dari seluruh departemen. Departemen ini mendapatkan seluruh informasi dari general manager dan seluruh departemen lainnya. Sosok penting dalam departemen akunting adalah kepala akuntan. Kepala akuntan ini biasanya disebut sebagai manajer bisnis atau kepala pembukuan, apapun panggilannya, kepala akuntan ini memiliki wewenang memimpin divisi ini.

Posisi lain yang penting selain kepala pencatatan (head bookkeeper) adalah sales ledger bookkeeper dan purchase ledger bookkeeper. Tugas sales bookeeper adalah merekam semua pekerjaan yang dihasilkan oleh divisi penjualan. Purchase ledger bookkeeper merupakan pencatat yang mengambil peranan dalam tagihan barang yang diterima, pemesanan pembelian barang, menerima seluruh catatan clerk, yang selanjutnya digunakan untuk mengecek apakah barang yang diterima sesuai dengan barang yang dipesan serta apakah pesanan yang diciptakan sesuai, serta mengaudit tagihan perusahaan.

3.5 Record of the sales division

Terdapat sebuah departemen yang disebut sebagai sales record clerk yang bertugas membuat laporan dari seluruh penjualan yang dilaporkan oleh divisi penjualan dan siapa yang bertanggungjawab terhadap laporan penjualan harian, bulanan, dan tahunan kepada eksekutif yang lebih tinggi. Divisi produksi dan pembelian memiliki usaha kerja sendiri yang mana tidak berada di bawah tanggung jawab divisi akunting. Di bawah agen pembelian ada berbagai jenis pencatat yang bertugas mengumpulkan seluruh informasi yang dibutuhkan sebagai pedoman pembelian, transaksi aktual dan meneruskan rekaman informasi yang dibutuhkan purchase ledger bookkeeper.

Divisi penjualan juga memiliki tugas perkantoran yang juga berkaitan dengan divisi akunting. Melalui pencatat pemesanan (order clerk) dan pencatat penjualan (sales record clerk), sales ledger bookeeper akan dapat menginformasikan seluruh aktivitas yang telah terjadi di divisi penjualan. Selain beberapa jenis pencatat yang lain, seperti pencatat dari barang yang dikembalikan, rebat dan overcharges. Setiap departemen tersebut sangat terkait dengan aktivitas barter dan pertukaran, atau juga pada ganti rugi klaims, yang ada di akunting, dimana semua transaksi yang bermacam tersebut bertujuan mengurangi kerugian dari aset tunai.

3.6 Subordinating a department to several official

Bagian lain yang dibutuhkan oleh setiap organisasi dicontohkan sebagai dua kewenangan yang saling berkaitan; yaitu depertemen subordinasi pada dua atau lebih superior. Percabangan dari divisi produksi atau pembelian adalah departemen penerimaan (receiving department); sementara departemen penerimaan dan shipping merupakan percabangan dari chief store room clerk atau chief stockkeeper. Store room atau stock room merupakan bagian medium dalam mentransfer produk dari divisi produksi hingga sampai ke pelanggan melalui divisi penjualan. Barang diterima dari pabrik oleh recieving clerk, setelah dicek selanjutnya didistribusikan dan catatan pengiriman yang telah ditandangani stockkeeper dikirim ke purchase bookkeeper, sementara inventory clerk akan mencatat kembali persediaan barang yang ada. Ketika terjadi penjualan atau persediaan barang dibutuhkan oleh divisi penjualan, salinan dari catata pemesanan akan melalui shipping clerk dan menjadi rekuisisi pada stockkeeper bagi barang yang dipesan. Stockkeeper mengirimkannya pada shipping clerk, mengambil struk pemesanan. Shipping clerk, melalui petugas penyortir, inspektur dan pengepak, dapat mengirim pesanan dari divisi penjualan, dan barang pesanan telah siap untuk pengiriman.

3.7 Centralizing correspondence in one department

Hampir seluruh transaksi bisnis harus melewati jalur yang pasti sama. Setiap departemen membutuhkan lebih banyak atau lebih sedikit pekerjaan stenografik serta pencatatan dalam setiap transaksi. Maka akan selalu ada interaksi dari setiap departemen ke departemen lainnya. Yang paling sering berinteraksi adalah kepala stenografik dan manajer. Di bawah posisi tersebut terdapat stenografer dan pencatat yang bertugas mengirim semua informasi sesuai permintaan pada setiap departemen.
Divisi akunting merupakan contoh sempurna dalam menjelaskan hal ini dan kompeten dalam menjelaskan setiap detail perusahaan; dengan tidak adanya dua hal akan membuat ketidakamanan dalam perusahaan. Dua hal tersebut adalah credit department dan controller’s department, yang merupakan penjamin keamanan dalam divisi pembelian dan penjualan.

Tidak akan ada pesanan yang akan dikirim tanpa persetujuan controller. Controller bertanggungjawab terhadap rekening perusahaan di bank. Controller mengetahui keadaan keuangan sehingga dapat memutuskan apakah akan melakukan pembelian barang persediaan, jumlah pemesanan barang dinaikkan atau justru dibatalkan.

Pengaman perusahaan pada area penjualan adalah credit department. Melalui pertimbangannya perusahaan akan terlindung dari kehilangan debet yang parah. Credit department juga memiliki kewenangan adalam menentukan penerimaan pesanan, serta mengawasi pembayaran pesanan. Rekening pemasukan perusahaan dipegang oleh credit manajer, yang melakukan supervisi pekerjaan chief collection clerk dan bawahannya,
Departemen akunting ini merupakan model yang baik dalam menjelaskan keterkaitan/ korespondensi antar departemen dalam organisasi. Dari model tersebut dapat diketahui bahwa rutinitas lengkap dalam pemesanan pembelian harus melalui controller hingga purchase bookkeeper dan kembali melalui recieving clerk hingga stock clerk. Sementara untuk pemesanan penjualan harus melalui divisi penjualan yang tentunya melalui credit department hingga sales bookeeper dan shipping clerk. Sistem ini akan berbeda-beda tergantung karakter perusahaan.

BAB IV
BUSINESS ADMINISTRATION DALAM SKN


Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah sebuah tatanan yang menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatam masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam SKN terdapat sub sistem upaya kesehatan yang terdiri dari (upaya kesehatan masyarakat) UKM dan UKP secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Berikut ini merupakan prinsip upaya kesehatan, yakni :
1. UKM diselenggarakan oleh pemerintah dengan peran aktif masyarakat
2. UKP diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha

Administrasi publik dalam SKN diterapkan dalam mengelola program upaya kesehatan masyarakat dimana pemerintah sebagi pengelola tidak mengambil untung dengan berorientasi konsumen. Sedangkan administrasi bisnis nampak pada pengelolaan UKP yang berorientasi pada konsumen dimana ada unsur swasta yang dilibatkan. Berikut ini merupakan gambaran administrasi publik dan administrasi yang ada dalam SKN.

Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) Sebagai Kepala Puskesmas:

Salah satu point penting dalam SK Menkes no. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat adalah kepala puskesmas dipersyaratkan harus seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat dan menempati eselon III B.

Organisasi dan Tatalaksana Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah. Visi yang dimiliki oleh Puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat 2010. Masyarakat hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata sehingga mampu untuk memiliki derajat kesehatan yang setinggi- tingginya.

Indikator pencapaian yang digunakan untuk mengukur visi ini antara lain lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta derajad kesehatan penduduk kecamatan yang optimal. Konsekuensinya, upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas tidak hanya dalam hal pengobatan (kuratif) tetapi juga meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Dengan menilik fungsi puskesmas tersebut, terlihat bahwa peran Puskesmas di luar gedung lebih besar dibandingkan di dalam gedung. Puskesmas perlu lebih banyak melakukan pemantauan pembangunan berwawasan kesehatan. Hal ini dibutuhkan agar masyarakat memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri untuk sehat serta berperan aktif dalam pelaksanaan program kesehatan. Kegiatan Puskesmas yang ada di dalam gedung hanya terfokus pada upaya pengobatan. Upaya pengobatan dalam jangka panjang kurang menguntungkan karena biaya untuk pengobatan semakin lama semakin meningkat. Adanya fungsi puskesmas yang lebih terfokus pada kegiatan di luar gedung dari pada di dalam gedung ini, menyebabkan perlu adanya sistem manajemen yang baik terutama dalam bidang manajemen kesehatan masyarakat.

Kompleksnya upaya pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas menuntut adanya sebuah sistem manajemen Puskesmas yang baik meliputi perencanaan, penggerakan, pelaksanaan dan pengawasan, pengendalian dan penilaian. Namun perlu diingat bahwa manajemen merupakan sebuah ilmu dan seni sehingga seorang kepala Puskesmas dituntut untuk memiliki ilmu manajerial dan kemampuan mengoptimalkan ilmu itu yang dalam hal ini berada dalam konteks kesehatan.

Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Berdasarkan penjelasan di atas, tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) baik strata satu maupun strata dua adalah salah satu tenaga di bidang kesehatan yang memiliki ilmu manajemen yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Ditinjau dari kurikulum pendidikan Fakultas Kesehatan Masyarakat, maka kompetensi sarjana kesehatan masyarakat khususnya jurusan administrasi kebijakan kesehatan, dalam kaitannya dengan manajemen puskesmas sudah memadai.

Seorang calon sarjana kesehatan masyarakat harus mampu menyelesaikan mata kuliah organisasi, manajemen, perencanaan dan evaluasi , pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, manajemen strategik kesehatan masyarakat, manajemen data, ekonomi kesehatan, kepemimpinan,promosi dan pendidikan kesehatan, sosio antropologi kesehatan, komunikasi kesehatan, etika dan hukum kesehatan serta sistem informasi kesehatan.

Saat ini Puskesmas lebih banyak dipimpin bukan oleh sarjana kesehatan masyarakat, Puskesmas lebih banyak dipimpin oleh tenaga medis dokter maupun dokter gigi. Kompetensi dokter dan dokter gigi sebagai kepala Puskesmas merupakan sebuah over qualified competence. Karena untuk menjadi seorang administrator tidak perlu belajar anatomi, biokimia dan ilmu bedah. Keterampilan dokter jauh lebih bermanfaat untuk clinical care. Meskipun sebagian besar pendidikan dokter memasukkan mata kuliah manajemen program kesehatan masyarakat (lebih kurang untuk kegiatan pelayanan di Puskesmas).

Sebuah penelitian telah dilakukan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah tentang perbedaan fungsi manajemen antara Puskesmas yang dikepalai oleh SKM dan non SKM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan fungsi perencanaan, fungsi koordinasi, fungsi penggerakan, fungsi evaluasi, serta angka cakupan program kesehatan pada Puskesmas yang dikepalai oleh SKM dan Non SKM di Kabupaten Grobogan tahun 2007. Kabupaten Grobogan memiliki tiga puluh Puskesmas, lima Puskesmas di antaranya dikepalai oleh SKM, empat Puskesmas dikepalai oleh dokter gigi, dan 21 Puskesmas dikepalai oleh dokter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan fungsi manajemen antara Puskesmas yang dikepalai oleh SKM dan Non SKM pada program kesehatan di Kabupaten Grobogan tahun 2007.

Dari perbandingan kurikulum pendidikan antara SKM dan dokter, terlihat seorang sarjana kesehatan masyarakat lebih memiliki keahlian yang diharapkan untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin Puskesmas. Hal ini karena seorang pemimpin Puskesmas harus mampu merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan manajemen Puskesmas. Namun, keberhasilan kepemimpinan Puskesmas oleh seorang sarjana kesehatan masyarakat berpulang kembali kepada kecerdasan orang tersebut untuk mengaplikasikan ilmunya di Puskesmas. Dengan dasar tersebut, seorang pemimpin puskesmas dibutuhkan dari seorang yang telah menduduki eselon III B dengan harapan orang tersebut telah banyak pengalaman dalam pekerjaannya.

Faktor pengalaman lapangan yang selama ini banyak diperdebatkan memang lebih menguntungkan dokter dan dokter gigi. Kementerian Kesehatan mewajibkan dokter yang baru lulus melaksanakan praktik selama satu tahun di Puskesmas dan rumah sakit. Dengan pengaturan penempatan, nantinya dokter itu akan ditempatkan di Puskesmas selama empat bulan dan di rumah sakit selama delapan bulan. Persyaratan yang diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan ini menjadi salah satu syarat memperoleh surat tanda registrasi (STR) yang harus dimiliki dokter agar bisa berpraktik. Keuntungan dari program ini bagi dokter adalah menambah pengalaman, meningkatkan ketrampilan dokter, sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Pendidikan sarjana kesehatan masyarakat sendiri telah memberikan bekal pengalaman bagi sarjananya melalui program magang dan belajar lapangan di instansi kesehatan di Puskesmas. Namun durasi waktunya lebih pendek daripada program magang dokter dan dokter gigi (hanya sekitar dua bulan). Job description mahasiswa magang pun masih belum jelas. Jika dokter dan dokter gigi telah memiliki program yang jelas dengan program kedokteran komunitas, mahasiswa kesehatan masyarakat yang magang tugasnya masih belum jelas. Banyak di antara mahasiswa magang hanya diminta untuk terlibat dalam pelayanan loket. Sehingga kesempatan dalam ikut serta dan belajar langsung tentang manajemen Puskesmas masih belum optimal.

Masih Wacana Efisiensi Dokter Bukan Wacana Kompetensi SKM

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa saat ini dari 8.000-an Puskesmas di Indonesia, sekitar 30% belum memiliki dokter. Kenyataan bahwa disfungsi dokter menjadi kepala Puskesmas dapat mengganggu fungsi puskesmas yang sesungguhnya. Perawat menjalankan praktek pengobatan di Puskesmas dan dokter jadi pengawas dan administrator. Jika dokter mampu untuk menjadi pengawas yang efektif mungkin tidak masalah. Tetapi sedikit sekali fakta yang menunjukkan ada suatu mekanisme dalam pengawasan praktek klinik perawat. Ini tidak menyampingkan bahwa perawat pun sebetulnya ada yang berpraktek secara rasional. Hal ini menunjukkan adanya tumpang tindih job description yang ada di Puskesmas.

Ketua IDI wilayah DKI Jakarta, menyatakan bahwa harus ada kejelasan pada tugas profesi dokter di Puskesmas. Tugas dokter di Puskesmas saat ini tidak
cocok dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang dokter. Karena, dokter
jadi lebih disibukkan oleh tugas manajerial dan jabatannya sebagai pejabat
kecamatan. Ketidakjelasan tugas tersebut jelas akan mempengaruhi kinerja
dokter Puskesmas.

Beberapa studi tentang hal ini telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan hal
yang sama. Tingkat kehadiran dokter yang rendah hingga program Puskesmas yang
tidak berjalan. Namun tidak semua dapat dipukul rata karena di lain pihak banyak juga kinerja dokter Puskesmas yang tinggi walaupun harus merangkap jabatan struktural sebagai kepala Puskesmas.

Wacana lain yang sering muncul dalam diskusi kepemimpinan Puskesmas adalah jika Puskesmas dijabat seorang sarjana kesehatan masyarakat akan lebih menguntungkan karena frekuensi kepindahan tidak terlalu cepat bila dibandingkan dokter yang frekuensi kepindahannya lebih cepat mengikuti perannya sebagai dokter yang perlu mengambil pendidikan dokter spesialis. Wacana SKM menjadi kepala Puskesmas juga muncul karena dokter dianggap terlalu over-qualified dalam menjalankan Puskesmas. Untuk menjadi administrator tidak perlu belajar anatomi, biokimia dan ilmu bedah. Keterampilan dokter dianggap akan jauh lebih bermanfaat untuk clinical care.

Dari penjelasan tersebut, terkesan masih mengganggap SKM sebagai warga kelas dua setelah dokter dalam menjadi kepala Puskesmas. Alasan yang utama masih mengakar pada dokter. Tentang dokter yang masih dibutuhkan oleh pasien, tentang dokter yang jumlahnya terbatas, atau bahkan karena dokter yang memiliki mobilitas tinggi. Alasan munculnya wacana SKM menjadi kepala Puskesmas masih belum menyentuh core utama efektivitas kompetensi SKM. Belum pada market trust terhadap kemampuan SKM menjalankan manajerial kesehatan.

SKM masih dianggap terlalu generalis karena studi administrasi kesehatan hanya satu bagian kecil dari pelajaran mereka. Kemapuan manajemen SKM juga selalu ditantang oleh kenyataan rumitnya masalah pelayanan kesehatan yang pada dasarnya dikuasai oleh dokter dan perawat. Meskipun secara teoritis, administrator bisa saja membawahi orang yang lebih tinggi tingkat pendidikannya, tetapi bisa ada semacam hambatan psikologis untuk mengendalikan mereka.

Solusi yang Ditawarkan
Harus ada kejelasan tentang prospek jenjang karir sarjana kesehatan masyarakat. Stakeholder yang terkait harus menyadari ke arah mana SKM akan dikembangkan. Bila memang SKM diniati untuk bisa mengisi jabatan top management Puskesmas atau rumah sakit, maka mahasiswa kesehatan masyarakat dengan kualifikasi dan kompetensi macam apa yang berhak menduduki jabatan tersebut. Untuk lebih memantapkan kompetensinya, SKM harus dibekali secara detail baik teori maupun praktek tentang total quality management of primary care sebagai ciri khas spesifik SKM dengan dokter. Atau jika diperlukan adalah dengan membuat sebuah jenjang keprofesian SKM agar tidak dianggap sebagai bidang ilmu yang generalis.

Untuk menghindari penganakemasan salah satu profesi dalam menduduki jabatan kepala Puskesmas, akan lebih adil jika rekrutmen kepala Puskesmas dilakukan melalui open recruitment. Pemerintah Daerah sebagai pemilik Puskesmas berwenang menetapkan kualifikasi secara terbuka ketika mereka mencari posisi kepala Puskesmas. Siapa saja yang memenuhi syarat dapat mengajukan lamaran. Yang paling penting adalah transparansi dalam hal rekruitmen dan terminasi. Melalui sebuah rangkaian rekruitmen hingga seleksi, Pemerintah akan dapat meramalkan kemampuan yang dimiliki seorang SKM dalam memimpin Puskesmas.

Yang paling utama adalah berikan kesempatan kepada SKM, apakah mereka mampu menjadi kepala Puskesmas. Masalah utama yang muncul adalah tentang kepercayaan para pembuat kebijakan untuk memberi SKM kesempatan menjadi kepala Puskesmas. Sudah banyak kabupaten/ kota di Jawa Timur yang telah memberlakukan kebijakan SKM sebagai kepala Puskesmas. Namun sayangnya tidak dibarengi dengan evaluasi yang menyeluruh.

Pemerintahnya hanya melihat bahwa output yang dihasilkan kepala Puskesmas SKM tidak lebih baik daripada non SKM. Pelayanan kesehatan merupakan sebuah proses yang kompleks sehingga tidak dapat hanya dilihat dari indikator output saja. Justru yang paling penting adalah indikator proses. Masalah juga sering muncul pada indikator input SKM, karena SKM yang ada saat ini ada yang bukan SKM murni. Artinya mereka memiliki dasar pendidikan D3 non kesehatan masyarakat.

Jumat, 05 Juni 2009

Bussines Plan, GrandHealthTime Club

BAB I
Rangkuman Eksekutif
Kelompok lansia yang ada di Kabupaten Jombang merupakan kelompok yang potensial untuk dijadikan sebagai target market untuk usaha pengadaan jasa berupa pengawasan kesehatan untuk usia senja. Jumlah potensial yang dapat dijadikan sasaran ini dapat terus bertambah dengan adanya kelompok pekerja yang baru pensiun serta butuh adanya suatu kegiatan agar tidak terjadi adanya post-power syndrome.
Usaha ini berupa jasa pengelolaan klub kesehatan yang anggotanya adalah lansia. Klub kesehatan ini dinamakan GRANDTIME HEALTH, bertempat di pusat kota sehingga aksesnya dapat dengan mudah dicapai para lansia maupun keluarganya. Klub ini menyediakan berbagai program yang sangat dibutuhkan seseorang di masa tuanya, baik itu berupa konsultasi gizi dan kesehatan hingga program berupa aktivitas olahraga dan sosial.
Dengan hanya membutuhkan modal sebesar Rp 12.000.000,- pada awal pendiriannya, usaha ini akan segera balik modal pada empat bulan pertama dengan asumsi anggota yang bergabung hanya sekitar 4% dari seluruh lansia yang potensial sebagai konsumen. Empat bulan setelah modal kembali maka klub ini dapat mengambil laba bersih hingga Rp 4.950.000,- setiap bulannya. Dengan promosi yang baik dapat meningkatkan jumlah anggota yang selanjutnya berimplikasi meningkatnya pula laba yang diperoleh.
Usaha ini hanya membutuhkan sedikit tenaga dan dapat disebut hanya sebagai usaha sampingan karena pengelola tidak perlu terus menerus memantau jalannya usaha. Usaha ini hanya dijalankan saat program yang ditentukan seperti kegiatan olahraga pada pagi hari serta kajian, arisan serta konsultasi yang dilakukan pada sore hari saja. Dengan kata lain sumber daya yang dibutuhkan hanya sedikit dari segi waktu.

BAB II
Deskripsi Usulan Bisnis
a. Deskripsi Produk
Nama : Grandtime Health Club
Lokasi : Jalan Wachid Hasyim, Jombang
Jam kerja :
• Konsultasi kesehatan serta makanan bergizi buka pukul 17.00-20.00 WIB.
• Kegiatan outdoor seperti olahraga dan kajian agama dilaksanakan dengan fleksibel sesuai jadwal yang ditentukan sesuai kesepakatan anggota klub.
Bisnis ini merupakan bisnis yang mencari laba melalui usaha jasa. Klub ini memberikan pelayanan berupa jadwal aktivitas yang sesuai dengan manula (manusia lanjut usia). Tujuan usaha ini adalah menyediakan usaha yang terus dapat membuat kehidupan di usia tua tetap bahagia dan menjaga kesehatan mereka dapat terus terjaga. Aktivitas-aktivitas dalam program yang ditawarkan juga dapat menghindarkan mereka dari post-power syndrome. Program yang ditawarkan antara lain:
• Konsultasi kesehatan, meliputi konsultasi tentang apa saja makanan serta aktivitas yang sesuai dengan keadaan individu manula yang disesuaikan dengan kondisi kesehatannya. Konsultasi tentang makanan yang sesuai dengan kondisi pencernaan mereka dan yang tak mengganggu kesehatan ditangani oleh seorang ahli gizi. Untuk kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan ditangani oleh seorang geriatrician. Geatrician ini juga menangani tentang check up kesehatan setiap bulannya.
• Aktivitas rutin bersama,aktivitas ini ditawarkan untuk menjaga kualitas kehidupan di usia senja serta terutama menghindari terjadinya post-power syndrome pada manula yang baru memasuki masa pensiun. Komunikasi serta kehidupan sosial yang baik dapat membuat hidup manula lebih bahagia karena ia merasa masih dibutuhkan oleh orang lain di usia senja. Rasa dibutuhkan ini dapat membuat manula lebih semangat untuk menjani hidup sehingga diharapkan ia terus menjaga kesehatannya. Aktivitas rutin yang dilakukan yakni
o Olahraga lansia, dijadwalkan dilaksanakan setiap hari sekali pada pagi hari. Bentuk olahraga ini berupa senam low impact untuk kardiovaskuler, bersepeda bersama, serta jalan sehat.
o Kajian keagamaan, untuk yang beragama Islam diikutsertakan dalam pengajian yang dilakukan setiap malam Jumat, sedangakan untuk yang beragama selain Islam akan dibentuk kelompok kajian agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
o Bakti sosial, setiap dua bulan sekali para anggota diajak untuk melakukan pekerjaan sosial bersama.
o Arisan rutin, para anggota kumpul untuk sekadar bertemu dan bertukar pikiran agar mereka dapat berbagi cerita sehingga menimbulkan rasa saling membutuhkan.
b. Latar Belakang Bisnis
Lansia merupakan kelompok manusia yang kesehatannya harus lebih diperhatikan dengan lebih teliti. Usia tua juga seperti usia balita yang harus mendapatkan perwatan khusus yang lebih intensif. Keadaan ini menuntut harus dibentuknya sebuah wadah yang mampu memenuhi kebutuhan para lansia dalam memberikan petunjuk untuk menjaga kesehatannya.
Lansia di kota Jombang belum terakomodir seutuhnya dalam pemenuhan kebutuhan ini. Di kota Jombang sendiri saat ini sudah berdiri sebuah pesantren khusus lansia. Pesantren ini selain menyediakan bimbingan agama Islam bagi anggotanya juga menunjukkan perhatian tentang kesehatan anggotanya itu. Permasalahannya sekarang, tidak ada wadah yang mengakomodir lansia yang beragama non-Islam serta para lansia yang bukan menjadi anggota dan maupun lansia yang tidak memepunyai dana khusus serta berlebih dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya ini.
Klub kesehatan yang dibentuk ini menghadirkan solusi yang baik dalam mengelola kesehatan masyarakat usia senja. Dengan dana yang terjangakau serta tidaka perlu menginap di pesantren, masyarakat usia senja dapat terus menjaga kesehatannya.
c. Tujuan dan Potensi Bisnis
Tujuan bisnis ini adalah untuk memperoleh laba. Laba yang diperoleh ini merupakan hasil dari penjualan jasa konsultasi serta pengadaan program kesehatan maupun non-kesehatan yang sesuai dengan hasil konsultasi kesehatan yang telah dilakukan. Tujuan sosial yang ada pada pendirian klub ini adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Jombang yang ada pada usia senja. Kesehatan yang dimaksud tidak hanya kesehatan berupa fisik tapi juga kesehatan psikis.
Potensi bisnis ini sangat menjajikan karena di Jombang sendiri, organisasi yang mengurusi masalah kesehatan lansia masih sangat terbatas. Untuk organisasi pemerintah sendiri hanya ada beberapa puskesmas dengan program posyandu lansia dan poli geriatrik di RSUD Swadana Jombang. Sementara itu untuk organisasi non pemerintah hanya ada pesantren lansia yang ada di daerah Pulo Lor, Kecamatan Jombang. Dengan sedikitnya pesaing dalam bisnis ini maka produsen optimis prospek usaha ini akan cerah. Faktor lain yang dapat memajukan bisnis ini adalah cakupan konsumen yang cukup tersegmen. Jombang dikenal dengan populasi manusia usia produktif dengan beban tanggungan hidup yang cukup rendah. Hal ini akan berdampak pada akan mudahnya mereka untuk tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan orang tua mereka dalam bidang pemeliharaan kesehatan.
BAB III
Perkiraan atas Lingkungan Bisnis
a. Lingkungan Ekonomi
Tingkat pendapatan penduduk kabupaten Jombang telah mencapai tingkat ekonomi yang lumayan baik. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduknya terus mengalami peningkatan. Dengan asumsi itu maka penduduk akan dapat dengan mudah sesuai kemampuannya menjadi anggota klub atau juga mendaftarkan orang tuanya yang telah memasuki usia senja menggunakan program yang ditawarkan.
Keadaan perekonomian Jombang yang masih terus dalam masa perkembangan berdampak pada masih murahnya sumber daya yang tersedia di kota ini. Misalnya untuk tenaga konsultan yakni ahli gizi dan geatrician dapat disewa dari rumah sakit Kota Jombang dengan kompensasi sewa yang menggunkan hitungan paruh waktu kerja. Untuk pengadaan fasilitas non SDM dapat diperoleh dengan mudah dan murah, seperti harga tanah yang murah di Jombang membuat pengeluaran untuk penyewaan tempat usaha menjadi tidak terlalu mahal.
b. Lingkungan Usaha
Lingkungan usaha ini masih sangat terbuka lebar karena masih sedikitnya pelaku bisnis yang bergerak pada bisnis ini. Keadaan persaingan tidak akan ada karena kurang seimbangnya jumlah konsumen dengan jumlah penyedia layanan.
c. Analisis SWOT
Analisis lingkungan usaha ini digambarkan melalui sebuah analisis yakni
• S : Banyaknya jumlah lansia kota Jombang.
Fasilitas yang tersedia mudah diakses dan murah.
• W : Usaha utama yang dijalankan oleh manajer sehingga sulit memperoleh pinjaman modal.
Kurangnya pengalaman manajemen sehingga operasional akan sedikit terganggu.
• O : Klub ini merupakan klub pertama yang ada di Jombang.
Penduduk Jombang kebanyakan usia muda yang bekerja sehingga angka ketergantungannya akan rendah.
• T : Adanya pondok pesantren lansia yang berdiri di kota Jombang.
Dari uraian tentang profil SWOT klub ini maka dapat dilihat bahwa klub inimasih layak untuk dijalankan sehingga akan sangat potesial jika proposal bisnis ini diwujudkan.











BAB IV
Rencana Manajemen
a. Struktur Organisasi
Nama : Grandtime Health Club
Struktur Manajemen :


Status Kepemilikan : Swasta yang dijalankan dengan manajemen sendiri oleh pemilik ide usaha.
b. Produksi
Lokasi : Jalan Wachid Hasyim, Jombang
Jam Kerja :
• Kantor adminstrasi klub buka setiap pukul 15.00-20.00 WIB
• Konsultasi kesehatan serta makanan bergizi buka pukul 17.00-20.00 WIB.
• Kegiatan outdoor seperti olahraga dan kajian agama dilaksanakan dengan fleksibel sesuai jadwal yang ditentukan sesuai kesepakatan anggota klub.

Material yang dibutuhkan :
• Perlengkapan Audio untuk pelaksanaan senam serta sound system pengeras suara saat kegiatan bersama dilakukan.
• Alat-alat pemeriksaan saat check up kesehatan dengan geatrician seperti tensimeter, alat pengukur kolesterol, stetoschope, timbangan berat badan dan pengukur tinggi dan lingkar lengan.
• Alat-alat masak untuk memperagakan makanan yang sesuai anjuran ahli gizi.
Karyawan :
Karyawan yang diperkerjakan ini menggunakan sistem pekerja kontrak yang setiap lima bulan sekali mereka memperbaharui kontrak kerja mereka. Sistem pengupahan yang dilakukan menggunakan pembayaran setiap bulan. Karyawan ini meliputi :
• Bagian konsultasi kesehatan
1. Konsultan gizi, terdiri dari seorang ahli gizi yang bekerja hanya pada sore hari tiga jam tiga hari dalam seminggu.
2. Geriatrician, terdiri dari seorang dokter ahli spesialis geriatric yang bekerja hanya pada sore hari tiga jam tiga hari dalam seminggu.
• Bagian aktivitas rutin
1. Seorang instruktur senam
2. Kegiatan luar sekretariat seperti olahraga, kajian agama dan arisan diatur oleh bagian administrasi.
• Bagian house keeping dikerjakan oleh seorang dua orang cleaning service.




BAB V
Penelitian, Analisis, dan Rencana Pemasaran
a. Penelitian dan Analisis
Target Market
• Lansia golongan ekonomi menengah ke atas.
• Para lansia yang baru saja memasuki masa pensiunan sehingga membutuhkan aktivitas untuk mengisi waktu luang sehingga menghindari terjadi post-power syndrome.
Lokasi dan Pertimbangannya
Sekretariat : Jalan Wachid Hasyim, Jombang
Dengan pertimbangan sebagai berikut
• Lokasi ini strategis di tengah kota sehingga para lansia maupun anggota keluarga mereka yang ingin mendaftarkan serta mengawasi kegiatan dapat dengan mudah mengakses.
• Lokasi yang strategis juga menjadi salah satu metode promosi karena setiap orang yang lewat dapat membaca logo perusahaan.
Tempat pelaksanaan
• Konsultasi kesehatan dilakukan di sekretariat, di dalam kantor sekretariat selain terdapat kantor administrasi juga terdapat ruang konsultasi untuk geatrician serta konsultan gizi.
• Kegiatan olahraga bersama dilakukan di alun-alun kota Jombang.
• Arisan bersama dapat dilakukan di berbagai tempat baik itu di sekretariat, restaurant maupun di rumah anggota.
Karakteristik Produk
Produk jasa yang dihasilkan klub kesehatan ini memiliki karakteristik produk, antara lain
• Murah, harga keanggotaan yang dibebankan sudah termasuk biaya administrasi, konsultasi serta biaya pelaksanaan program
• Segmentasi pasarnya jelas, klub ini hanya dikhususkan untuk kelompok usia tertentu yakni usia lansia
• Akurat, konsultasi yang dilakukan ini merupakan bimbingan dari para ahli
• Menyeluruh, kegiatan yang ada disini tidak hanya mengenai kesehatan jasmani saja namun juga untuk kesehatan rohani
Situasi persaingan
Klub ini merupakan klub kesehatan untuk orang lanjut usia yang pertama yang hadir di Jombang. Yang bergerak dalam bidang pemeliharaan konsumen ini hanya ada pada instalasi pemerintah yang juga hanya menyediakan layanan konsultan tanpa ada follow up berupa program kesehatan.
b. Rencana Pemasaran
Pemasaran produk ini melalui berbagai elemen promosi yang memungkinkan setiap anggota dapat mengetahui keberadaan klub ini yang selanjutnya dapat menjadi anggota klub, yakni
o Advertising/ periklanan, melalui baliho yang ditempel di pinggir jalan serta penayangan radio spot pada radio-radio lokal kabupaten Jombang. Sengaja dipilih radio karena dianggap paling efektif dengan kenyataan bahwa lebih banyak manula yang lebih senang mendengarkan radio. Waktu penayangan radio pun dipilih saat program acara dengan segmentasi pendengar manula seperti acara campursari keroncongan maupun program musik nostalgia.
o Personal selling, para anggota diharapkan dapat memberikan gambaran yang baik kepada manula lain sehingga mereka tertarik untuk bergabung sebagai anggota klub kesehatan ini




BAB VI
Keuangan

Struktur Biaya per Bulan
(dalam rupiah)

Sewa tempat
o Kantor sekretariat(Rp 6.000.000,-/tahun) Rp 500.000,-
Utilities (listrik, telepon, dll.) Rp 500.000,-
Gaji karyawan
o Konsultan gizi Rp1.000.000,-
o Geriatrician Rp1.000.000,-
o Bagian administrasi Rp1.000.000,-
o Dua orang cleaning service Rp1.000.000,-
Iklan (baliho dan radio spot) Rp 500.000,-
Total per bulan Rp5.500.000,-

1. Rencana Modal yang Dibutuhkan
• Meminjam modal kepada relasi sebesar satu bulan biaya operasional plus biaya sewa
Perincian biaya sewa : biaya sewa tempat untuk satu tahun dibayar penuh di muka sebesar Rp 6.000.000,- . Biaya operasional (tidak termasuk sewa setahun) berupa pembenahan kantor, perizinan, penyediaan alat-alat kantor serta alat-alat yang dibutuhkan dalam konsultasi ahli sebesar Rp 6.000.000,-
2. Rencana Harga Jual
• Target market : middle to high income. Harga keanggotaan disesuaikan dengan kondisi keuangan target market. Berbagai konsultasi dari ahli yang benar-benar kompeten serta keanggotaan yang eksklusif dalam klub ini, namun dari keadaan ekonomi target market harga yang dipatok dapat berimplikasi berupa biaya keanggotaan yang cukup terjangkau sesuai kemampuan ekonomi anggotanya.
• Harga yang dipatok pada awal pendirian klub ini menggunakan sistem trial & error. Maksud dari sistem ini adalah mengikuti respon pasar yaitu jika harga awal yang diajukan dianggap konsumen terlalu mahal, biaya anggota dapat dikurangi sedikit. Namun jika dianggap terlalu murah maka dapat dinaikkan lagi harganya. Penentuan harga ini tidak sembarangan namun telah mealui pertimbangan tentang semua komponen yang meliputi material, gaji karyawan serta biaya operasional.
• Penentuan harga ini sesuai dengan perhitungan untuk asumsi setiap kelompok program terdiri dari 50 orang anggota, klub ini terdiri dari tiga kelompok, maka perhitungan untuk setiap biaya yang dikeluarkan anggota sebesar
o Biaya operasional Rp 5.500.000,-/100 orang Rp 55.000,-
• Biaya pokok yang dikeluarkan untuk setiap anggota adalah Rp 55.000,- sehingga biaya keanggotaan harus di atas harga pokok. Dengan berbagai pertimbangan untuk menyeimbangkan antara harga pokok dengan jasa yang produsen keluarkan maka biaya keanggotaan yang ditawarkan adalah Rp 100.000,-/
• Dengan perbandingan harga itu maka dapat diperoleh selisih yang merupakan laba usaha yakni Rp 45.000,- untuk setiap anggota.
3. Target Penjualan
Data yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Jombang adalah manusia golongan produktif. Tingkat umur yang paling banyak adakah 19-20 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan sangatlah rendah sehingga kesejhateraan lansia Jombang akan terjaga oleh masing-masing keluarganya.
Melihat data yang ada tersebut maka target penjualan produk ini dapat dipatok sebesar seratus orang untuk tiga bulan pertama pembukaan. Jangka waktu tiga bulan dipilih karena masa itu merupakan jangka waktu untuk promosi.
Asumsi target penjualan dapat mengembalikan modal awal dengan rincian sebagai berikut (net income didapat dari laba yang diperoleh dari anggota)
o Bulan I, dua puluh anggota pertama (net income) Rp 900.000,-
o Bulan II, tiga puluh anggota baru (net income) Rp2.250.000,-
o Bulan III, lima puluh anggota baru (net income) Rp4.500.000,-
o Bulan IV, sepuluh anggota baru (net income) Rp4.950.000,-
Dari penjumlahan laba selama empat bulan pertama maka modal awal dapat tertutupi, selanjutnya laba yang diperoleh pada bulan berikutnya merupakan laba bersih perusahaan tanpa tanggungan untuk melunasi modal yang diperoleh dari pinjaman relasi.























BAB VII
Uji Kelayakan Usaha

Stakeholder Stakeholder Interest(s) in the Project Assessment of Impact Potential Strategies for Obtaining Support or Reducing Obstacles
Karyawan Menambah tugas pelayanan bagi pelanggan A Memberikan stimulus berupa peningkatan upah jika program yang dijalankan menunjukkan perkembangan yang baik
Konsumen • Menghadirkan sarana kesehatan yang murah dan optimal
• Sedikit menambah pengeluaran
B • Mempromosikan secara gencar untuk meyakinkan pelanggan bahwa dengan bergabung dalam klub ini sepadan dengan hasil yang diperoleh
• Menunjukkan dalam media promosi bahwa fasilitas yang diberikan adalah kualitas terbaik, metode kedokteran modern yang sesuai untuk menjaga kesehatan paar lansia di Jombang

Customer Window for Health Services, Sebuah Studi Pustaka & Relevansinya melalui the FAROUT System

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam persaingan yang makin tajam di antara pelayanan jasa kesehatan, kepuasaan pelanggan menjadi prioritas utama. Penyedia harus memperhatikan hal-hal yang dianggap penting oleh para pelanggan, agar mereka merasa puas. Manajemen harus mengidentifikasi faktor apa saja yang menentukan kepuasan pelanggan dan apakah faktor tersebut telah terpenuhi. Di dalam memeberikan jasa pelayanan yang baik kepada pelanggan, terdapat lima kriteria penentu kualitas jasa pelayanan yaitu keandalan, ketanggapan, keyakinan, empati serta berwujud (Philip Kotler, 1994: 561).
Kelima unsur tersebut akan menjadi acuan utama dalam kerangka pengukuran kepuasan pelanggan dengan membentuk sebuah lingkaran tanggapan mengenai tingkat kepentingan dan pelaksanaan. Keduanya akan menggambarkan apakah kepuasaan pelanggan telah terakomodir oleh produk jasa yang ditawarkan. Dalam bidang kesehatan sendiri ada empat kriteria penentu kualitas yang akan sangat berperan yakni attending skill, respect, emphaty, dan responsiveness.
Penggunaan customer window dalam menghitung kepuasan pelanggan akan sangat berguna dalam menentukan strategi apa yang sesuai untuk mempertahankan pelanggan lama dan memperlebar pangsa pasar. Pertanyaan baru timbul apakah analisis customer window ini masih relevan dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggan dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggan. Ada berbagai alat analisis kepuasan pelanggan yang dapat digunakan. Dan alasan apa yang membuat seorang peneliti menggunakan customer window ini.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pelayanan Jasa Kesehatan
Pelayanan jasa kesehatan merupakan sebuah industri jasa yang kompleks. Pelayanan jasa tidak hanya mencakup mengenai kualitas pelayanan namun juga hubungan interaktif pelanggan dengan penyedia, yang dalam bidang kesehatan dikenal sebagai komunikasi terapeutik. Kualitas dari komunikasi terapeutik akan sangat mempengaruhi keputusan pelanggan dalam memggunakan produk jasa kesehatan tersebut. Saat komunikasi ini berjalan dengan baik, selain tujuan penyembuhan tercapai, konsumen yang puas juga dapat diberdayakan sebagai sarana promosi. Promosi ini yang selanjutnya dapat dinyatakan sebagai sebuah pemasaran interaktif.
Indikator adanya kegiatan terapeutik adalah attending skill, respect, emphaty, dan responsiveness. Indikator inilah yang akan dinilai dan dihitung melalui diagram customer service. Data mengenai pemenuhan indikator ini diperoleh dari tanggapan pelanggan yang menyangkut tingkat kepentingan serta tingkat pelaksanaannya. Ketika dua hal ini telah terakomodir dengan baik maka kepuasan pelanggan akan tercapai. Berikut ini adalah penjelasan mengenai hasil pengukuran indikator yang akan dibuat matriks customer window-nya
1. Attending skill merupakan sikap serta keberadaan pemberi jasa kesehatan baik secara fisik dan psikologis saat melakukan komunikasi terapeutik. Hal ini diidentifikasi dalam lima cara komunikasi yang biasa disebut SOLER.
2. Respect merupakan sikap dan perilaku hormat pemberi jasa kesehatan. Hal ini diidentifikasi melalui keramahtamahan dan perhatian.
3. Emphaty merupakan sikap dan perilaku mau mendengarkan oleh pemberi layanan kesehatan.
4. Responsiveness merupakan sikap dan perilaku siaga petugas dalam mengatasi masalah kesehatan yang tiba-tiba muncul.
Selain kualitas dari komunikasi terapeutik, kualitas dari setiap fungsi manajemen akan sangat berpengaruh dalam keberhasilan pelayanan jasa kesehatan. Adanya sebuah keteraturan sistem dihadirkan melalui aplikasi menajemen di bidang pelayanan jasa. Dengan manajemen, sebuah pelayanan kesehatan dapat dipantau perkembangannya. Hal yang perlu dipantau ini dimulai dari tahap perencanaan hingga ke tahap penyajian layanan kesehatan. Setiap tahapan fungsi manajemen ini akan saling mempengaruhi dan tumpang tindih dengan tahap yang lainnya.
Jaminan kualitas yang pertama dari fungsi manjamen ini yakni menentukan kebutuhan pelanggan, mengembangkan produk sesuai kebutuhan pelanggan, memastikan bahwa pelanggan hanya akan mendapatkan pelayanan jasa yang benar-benar optimal, melakukan pelayanan purna-jual secara efektif, dan memastikan dan menjamin bahwa pelanggan akan memperoleh kepuasan setelah mendapatkan pelayanan ( Vincent Gaspersz, 2005: 340). Berdasarkan konsep tersebut, tampak bahwa kepuasan pelanggan akan sangat penting dalam hal penilaian keberhasilan sebuah fungsi manajemen.
2.2. Konsep Kepuasan Pelanggan
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakannya dengan harapannya (Oliver, 1980: 233). Jadi, tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, penyedia layanan kesehatan harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan kemampuan untuk mempertahankan pelanggannya.
Sebagai syarat untuk meningkatkan kualitas dan pencapaian pelanggan total dibutuhkan pengukuran tingkat ekspektasi pelanggan menggunakan berbagai analisis ilmiah. Salah satu alat analisis yang digunakan dalam hal ini adalah customer window. Customer window dilaksanakan dengan tujuan penilaian kepuasan pelanggan dengan membandingkan harapan dan penerimaan oleh pelanggan.
Konsep kepuasaan dalam layanan jasa kesehatan merupakan perwujudan dari adanya sebuah service excellence. Indikator mutu layanan ini mencakup dua hal yang bersifat struktural dan interpersonal. Secara struktural, pelayanan jasa kesehatan harus memiliki sebuah sistem manajemen. Dalam manajemen ini akan dirumuskan sebuah strategi dalam memenangkan persaingan. Secara interpersonal, adanya cerminan kasih sayang berupa perhatian dan empati dari petugas kesehatan terhadap konsumen akan menghadirkan poin kepuasan tersendiri.

2.3. Metode Penelitian
Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan dianalisis menggunakan customer window dengan pertimbangan bahwa hasil yang diperoleh akan mampu menguraikan sifat-sifat dari suatu keadaan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan mencari gambaran yang sistematis serta fakta yang akurat. Penggunaan data primer dan sekunder menunjukkan bahwa customer window ini tidak hanya bersifat kualitatif namun juga mengandung unsur kuantitatif.
Dasar teori yang menjadi dasar dipilihnya customer window sebagai alat analisis adalah konsep kepuasan (3P) dengan menggunakan indikator utama kualitas pelayanan jasa. Dimensi kualitas pelayanan jasa ini akan ditransformasikan dalam sebuah skala. Skala yang digunakan terdiri dari lima tingkat atau yang dikenal dengan Likert (sangat penting, cukup penting, penting, kurang penting, dan tidak penting). Bobot setiap poin dalam Likert akan dikuantitatifkan dalam skala angka lima (sangat penting) hingga skala satu (tidak penting).
Teknik analisis yang dipergunakan adalah analisis distribusi frekwensi statistik terhadap tiap variabel untuk memperoleh gambaran sebaran masing-masing skala dalam satu variabel berdasarkan frekwensi dan persentasi. Selanjutnya dilakukan ploting pada empat kwadran jendela pelanggan berdasarkan harapan terhadap pelayanan yang diinginkan dan penilaian pelayananan yang diterima.
2.4. Proses Penerapan Teknik
Costumer window merupakan sebuah diagram cartesius yang memiliki empat kuadran yang dibagi lagi menjadi beberapa jendela yang lebih rinci. Jendela yang biasanya digunakan sebanyak 16 jendela. Jendela-jendela ini akan menunjukkan posisi dalam perbandingannya dengan ekspektasi pelanggan terhadap produk yang ditawarkan oleh produsen.
Jendela yang ada di kuadran customer window memiliki empat aspek yakni (Vincent Gaspersz, 2005:59)
A merupakan kuadran attention. Pelanggan menginginkan karakteristik itu, tetapi ia tidak mendapatkannya
B merupakan kuadran bravo. Pelanggan menginginkan karakteristik itu, dan ia mendapatkannya
C merupakan kuadran cut or comunication. Pelanggan tidak menginginkan karakteristik itu, tetapi ia mendapatkannya
D merupakan kuadran don’t worry be happy. Pelanggan tidak menginginkan karakteristik itu, tetapi ia tidak mendapatkannya

Penerapan jendela pelanggan ini memiliki tahapan yang berurutan dan saling berkaitan, antara lain
1. Klarifikasi dan segmentasi pelanggan
2. Mendesain pertanyaan riset untuk mempelajari kepuasan relatif dan kepentingan relatif dari karakteristik produk yang diinginkan pelanggan
Data dikumpulkan dari populasi pelanggan pelayanan jasa kesehatan. Cara pengambilan data ini dilakukan secara acak. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari pelanggan berupa jawaban terhadap pertanyaan dalam kuisioner. Data sekunder diperoleh dari data yang telah diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain.
Data yang dikumpulkan yakni tingkat kepentingan pelanggan dan kinerja dari pelayanan kesehatan. Hasil pengumpulan data ini diberikan bobot sesuai tingkat kepentingannya, jawaban sangat penting diberi bobot lima, jawaban penting diberi bobot empat, jawaban cukup penting diberi bobot tiga, jawaban kurang penting diberi bobot dua, dan jawaban tidak penting diberi bobot satu. Untuk penilaian kinerja juga digunakan skala Likert. Jawaban kinerja sangat baik diberi bobot lima, berarti pelanggan sangat puas. Jawaban baik mendapat bobot empat, cukup baik berbobot tiga, jawaban kurang baik memiliki bobot dua dan untuk penumpang yang tidak puas dengan menjawab tidak baik hanya mendapat bobot satu.
Tingkat kesesuaian akan diperoleh dengan membandingkan skor kinerja dengan skor kepentingan. Tingkat kesesuaian inilah yang akan menentukan urutan prioritas peningkatan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Variabel kinerja dan kepentingan pelanggan diwakilkan dalam sebuah diagram cartesius. Sumbu X merupakan tingkat kinerja pelayanan kesehatan sedangkan sumbu Y mewakili tingkat kepentingan pelanggan.
Rumus yang digunakan adalah

Di mana : Tki = Tingkat kesesuaian responden
Xi = Skor penilaian kinerja perusahaan
Yi = Skor penilaian kepentingan pelanggan

Untuk setiap faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan dihitung dengan rumus



Di mana : x = Skor rata-rata tingkat kepuasan
y = Skor rata-rata tingkat kepentingan
n = Jumlah responden
Hasil penghitungan tersebut selanjutnya dimasukkan dalam sebuah diagram cartesius yang terbagi menjadi empat kuadran.
Strategi yang berbeda digunakan untuk setiap kuadran sesuai dengan karakteristik posisinya masing-masing. Posisi yang terbaik adalah saat berada di kuadran B, di mana dalam hal ini pelanggan memperoleh apa yang diinginkannya dengan mengkonsumsi produk. Dapat dikatakan pelanggan puas. Apabila berada di kuadran A maka harus diberikan perhatian bahwa pelanggan belum memperoleh apa yang dibutuhkannya. Jika posisi berada dalam kotak C, produsen harus menghentikan penawaran atau berusaha mendidik pelanggan tentang manfaat dari karakteristik produk yang ditawarkan, karena dalam posisi ini pelanggan memperoleh apa yang tidak diinginkannya. Sedangkan posisi D menunjukkan bahwa bukan suatu masalah bagi produsen jika pelanggan tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya.
2.5. Relevansi: The FAROUT System
Selama ini upaya supervisi terhadap analisis strategis dan kompetitif banyak terdapat keterbatasan sejumlah alat analisis yang sering digunakan. Selain itu alat untuk menganalisis kepuasan pelanggan ini ada bermacam-macam. Untuk membantu para analis memilih alat analisis yang akan digunakan, the FAROUT system dapat dipakai sebagai acuan untuk menentukan apakah alat analisisnya sudah relevan.
The FAROUT system ini menyatakan bahwa sebuah output analisis haruslah memiliki nilai pentinf bagi pengambilan keputusan. Indikator yang dipakai dalam analisis ini adalah apakah alat ini dapat menggambarkan orientasi masa depan produk, tingkat akurasi yang tinggi, efisiensi sumber daya, keobjektivan alat analisis, kegunaan, serta keterikatan dengan waktu.
Untuk mengetahui apakah customer window ini masih relevan dalam mengukur tingkat kepuasan pelanggan, maka the FAROUT system ini perlu dilakukan. Setiap indikator dalam the FAROUT system ini memiliki lima skala Likert. Hasil perbandingan dengan skala Likert ini selanjutnya digambarkan dalam tabel the FAROUT system.
Berikut ini merupakan analisis yang dilakukan pada customer window
Future orientation Sekarang hingga masa depan.
Customer window ini mampu menganalisis kepuasan pelanggan yang dinyatakan sekarang dan akan mempengaruhi pelayanan kesehatan ini di masa depan.
Accuracy Tingkat medium hingga tingkat tinggi.
Data ynag diperoleh merupakan data kualitatif serta data kuantitatif yang telah ditransformasi dalam angka sehingga ketelitian cakupan respon pelanggan dapat teratasi seluruhnya.
Resource efficiency Derajat rendah ke sedang.
Pelaksanaan analisis jebdela pelanggan ini butuh waktu yang cukup lama dalam pengambilan data primer dari pengisiaan kuisioner. Selain itu juga butuh banyak tenaga dalam pentransformasian data kualitatif menjadi bentuk angka.
Objectivity Derajat rendah ke medium.
Informasi yang diperoleh merupakan data primer yang subjektif. Random sampling yang digunakan justru akan membuat tidak semua pelanggan terakomodir pendapatnya.
Usefullness Derajat medium ke tinggi.
Dengan membuat customer window, penyedia pelayanan kesehatan akan mampu mengetahui posisinya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan serta telah mampukah kepuasan pelanggan terpenuhi. Mereka juga dapat melakukan intervensi apa yang akan dilakukan di setiap kuadran yang berbeda.
Timeliness Rendah ke medium.
Pengumpulan data dari berbagai sumber akan memperpanjang waktu.













BAB III
KESIMPULAN

Penggunaan customer window ini ditujukan untuk menilai tingkat kepuasan pelanggan. Konteks kepuasan pelanggan dalam alat analisis ini adalah nilai kesesuaian dari apa yang menjadi kepentingan pelanggan dengan kinerja pelayanan kesehatan. Dengan mengetahui posisi nilai kesesuaian ini dalam kuadran, maka penyedia layanan kesehatan dapat menentukan intervensi apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan pelanggan lama dan meningkatkan pangsa pasar.
Relevansi penggunaan customer window ini telah dikaji melalui FAROUT system. Indikator yang dinilai dalam FAROUT system yakni mengenai orientasi masa depan, keakuratan customer window dalam menilai kepuasan pelanggan, bagaimana efisiensi sumber daya yang digunakan, objektivitas alat ini, kegunaan serta keterikatannya dengan waktu. Dengan melakukan pengkajian melalui FAROUT system, dapat diketahui bahwa customer window ini masih relevan dalam menilai kepuasan pelanggan.











DAFTAR PUSTAKA

Fleisher, Craig S. Strategic and Competitive Analysis: Methods and Techniques for Analyzing Business Competition., Pearson Education, Inc., Upper Saddle River, New Jersey, 2003.
Gaspersz, Vincent. Total Quality Management., PT Gramedia Pustaka Utama., Jakarta., Indonesia, 2005.
Supranto. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan: Untuk Menaikkan Pangsa Pasar.,Penerbit Rineka Cipta., Jakarta., Indonesia, 2001.